Polda Bentuk Tim Khusus untuk Memburu Tersangka VCD Porno Lainnya

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Dinas Penerangan Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Anton Bachrul Alam mengungkapkan pihaknya telah membentuk tim khusus untuk meringkus Budi Styawan selaku agen pencari model dalam kasus cakram video porno berlabel Sabun Mandi. “Kita masih terus memburu Budi Setyawan. Untuk itu kita telah membentuk tim untuk menangkap tersangka Budi,” ujarnya kepada pers di Mapolda, Senin (3/6). Keterangan Budi, menurut Anton, sangat dibutuhkan untuk mengetahui siapa yang mempublikasikan serta mengedarkan VCD porno itu. Sejauh ini polisi telah menahan dua tersangka lainnya. Yakni George Irvan alias Mas Jos selaku manajer rumah produksi PT Indocho Rama yang memproduksi VCD itu, dan Arifin selaku juru kameranya.

Keduanya kini tengah menjalani pemeriksaan tim reserse unit kejahatan susila. Materi pemeriksaan masih seputar proses casting dan rekaman casting iklan sabun itu. Keduanya masih saling mengaku bukan sebagai otak utama pelaku pengambilan gambar casting iklan yang menghebohkan itu. Jika para model itu sudah melapor, selain dijerat pasal penipuan keduanya juga dijerat undang-undang perfilman No.8 Tahun 1992 tentang Pengedaran film tanpa izin. Menurut Anton, pihaknya juga akan meminta keterangan Daryel Togas dan Lana Togas selaku pemilik rumah produksi yang membuat rekaman casting iklan sabun berdurasi satu jam itu.

“Surat panggilan sudah dikirim, hari ini mereka diperiksa,” ujarnya. Pasangan suami istri itu, kata Anton, akan diperiksa sebagai saksi, karena dianggap tahu pembuatan VCD dan proses rekaman casting iklan sabun yang menampilkan sembilan remaja gadis model tanpa busana itu. Daryel disebut-sebut memegang master rekaman casting itu sebelum digandakan dan tersebar luas di masyarakat. Sedangkan Lana merupakan pemilik rumah produksi yang berlokasi di Jalan Percetakan Negara IX No. 8 Jakarta Pusat itu. Lebih lanjut, Anton berharap agar kesembilan gadis model berusia remaja itu segera melapor dan memberikan keterangan kepada polisi untuk memudahkan penyidikan.

Hingga kini, baru Melvy Noviza dan Rizky Pritasari yang sudah melapor ke Polda Metro Jaya. Sementara tujuh model lainnya, polisi belum menerima laporannya. Polisi juga tidak mengetahui alamat mereka. Untuk memeriksa kasus ini, tim penyidik juga akan menghadirkan saksi ahli seperti seksolog dan ulama. Saksi ahli itu, kata Anton, akan diminta untuk memberikan definisi dan batas-batas pornografi. “Apakah model-model itu termasuk pelaku pornografi atau tidak,” kata Anton. Jika termasuk pornografi, tidak menutup kemungkinan para model itu juga akan dijadikan tersangka dan dijerat dengan pasal kejahatan susila yakni pasal 281 dan 281 KUHP. (Bagja Hidayat-Tempo News Room)

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.