JBDK menjadi salah satu kontributor buku "Pornografi: Fenomena, Resiko & Penanggulangannya di Indonesia". Diterbitkan atas kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dengan Aliansi Selamatkan Anak/ASA Indonesia.
Buku ini terdiri dari 23 tulisan hasil karya, di antaranya: Taufik Ismail (Penyair/Sastrawan); Prof. Dr. dr. Dadang Hawari (Psikiater), Wirianingsih, Inke Maris, Tatty Elmier, Elly Risman, Ratna Maida Hasyim Ning, Shakina Mirfa, Amelia Naim Indrajaya, Mas Wigrantoro Roes Setiyadi, Peri Umar Farouk, Hilman Al Madani, Visrie Lidienillah, Tris Susanto, Fetty Fajriati Miftach (Anggota KPI), Adil Quarta Anggoro, Qadr Jatsiah, Naufala Bamasymus, Pdt. Dr. Nicolas J Woly, Syafiq Jawad, Farid Ridwanullah, Ahlul Faradish Resha.JBDK (Tim Jakarta, Semarang & Yogyakarta lengkap: Peri Umar Farouk, Bagus Cupid Band, Anto, Ismail Sebikom, Lafran Raythoudin, Joko Badeg, dan beberapa simpatisan) mendapat liputan AstroTV dalam program 'Telaah'. Liputan Telaah ini dilengkapi pernyataan dan penjelasan berbagai pihak kompeten, yakni: Muhammad Nuh (Menkominfo), Judith MS (Asosiasi Warnet Indonesia/AWARI), Donny BU (ICT/Pengamat Internet), dan testimoni Sarah Azhari (kasus penyadapan film terhadap beberapa artis oleh fotografer Budi Han). Lihat Galleri: Telaah 'Bedah Situs Porno', AstroTV
WHAT'S NEW? Nyang mo gabung JBDK Social Networking: http://jebedeka.ning.com. Nyang mo baca puisinya Putri Nuzul Huda, klik: Nyatanya Aku Ini Sampah?. Nyang mo lihat posternya Ratri Primayani, klik: Boleh Usil, Boleh Centil, Jangan Bugil!
Hampir setahun sejak Gerakan JBDK dilaunching melalui situs JBDK ini, fenomena Bugil Depan Kamera semakin memperlihatkan wajah aslinya yang paling sadis. Yakni: eksploitasi terhadap perempuan. Berbagai kasus baik yang masuk ke pemberitaan media massa, maupun yang mampir sebagai konsultasi ke Tim Kerja Gerakan JBDK ada berupa (i) pencemaran nama baik, terutama foto serta video bugil palsu dari beberapa selebriti atau orang yang cukup dikenal; (ii) berkenaan dengan persaingan politik, menjatuhkan lawan dengan penyebaran gambar atau film bugil; dan (iii) eksploitasi terhadap perempuan dalam dan di luar masa pacaran, salah satu bentuk nyata dari violance dating.
Sebelumnya di buku elektronik JBDK pernah dibuatkan siklus bugil depan kamera sampai berujung eksploitasi sebagai berikut:
Skenario umum yang terjadi dari kasus-kasus bugil depan kamera bisa disimpulkan seperti diagram berikut:
Diagram 1: Siklus Bugil Depan Kamera
Yang terbanyak bermula dari kencan dan seks yang ceroboh. Kemudian iseng mencoba-coba mendokumentasi adegan kencan dan seks, lalu menyimpan dan membaginya antar pelaku, atau diam-diam oleh pasangan pelaku maupun pihak ketiga. Sampai di tahap ini mereka merasa aman-aman saja, percaya kepada komitmen. Mereka baru sadar bahwa perbuatan mereka bermasalah ketika rekaman itu beredar di masyarakat, dengan berbagai cara dan media. Responden JBDK yang juga dihadirkan di acara talkshow K!ckAndy MetroTV 6 September 2007 mengutarakan bahwa, “..kami tidak khawatir karena kami punya komitmen menjaga rekaman ini di antara kami berlima. Kami group yang kompak dan setia, jadi tidak mungkin saling menyakiti. Ketakutan datang ketika handphone milik salah satu dari kami hilang entah dicuri. Kami tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bila film kami beredar..”
Setelah beredar, problem berurutan muncul, di antaranya mengganggu mental dan perilaku secara pribadi. Ada di antaranya sampai orang tuanya harus pindah tempat tinggal, atau mengungsikan anaknya. Sekolah atau pekerjaan menjadi berantakan. Sebagian mendapatkan pengucilan dari masyarakat, dan sebagian diproses di kepolisian. Meski proses hukum tidak serius, namun cukup menambah proses mempermalukan para pelaku di lingkungannya. Belum lagi ditambah menjadi bulan-bulanan pemberitaan di media.
Dan yang sekarang terkuak, sejak launching Gerakan J/B/D/K, ternyata banyak di antaranya merupakan kasus-kasus eksploitasi, terutama secara seksual kepada perempuan. Mulanya ada yang dipaksa menyatakan cinta dengan memilih apakah direkam bugil, atau berhubungan badan. Ketika bersedia direkam bugil, selanjutnya diancam akan disebarkan bila tidak memenuhi hasrat. Ada juga yang telah direkam beradegan cabul, terus menerus diperalat sebagai budak seks untuk memenuhi setiap saat dibutuhkan. Di antaranya ada yang sudah berlangsung lebih dari dua tahun, telah berganti pacar atau telah bersuami, namun tetap mendapatkan perlakuan eksploitasi. Kasus pelajar puteri SMP di Lampung belakangan ini bahkan dilakukan sekelompok pelajar, menjadi budak seks selama hampir setahun.
Jadi semakin jelas bahwa tantangan ke depan kita adalah soal potensi kekerasan terhadap perempuan yang diperparah oleh penyalahgunaan teknologi.
Info lebih lanjut mengenai Dating Violance atau Kekerasan Dalam Pacaran? Silakan klik » Dating Violance
MOSI KEBERATAN TIM KERJA GERAKAN ‘JANGAN BUGIL DEPAN KAMERA!’ TERHADAP SONY ADI SETYAWAN (SONY SET)
Biasanya kami hanya saling tertawa menanggapi perilaku dan komentar yth. Sony Set berkenaan dengan kampanye Jangan Bugil Depan Kamera, karena semakin hari semakin tampak bahwa beliau lebih banyak mengungkapkan hal-hal di luar kenyataan, bombastik dan sok heroik. Namun tulisan beliau di blog tvlab.blogspot.com tertanggal 21 Februari 2008 berjudul: ’JBDK – Saatnya Kita Bergerak Bersama!’, kami rasa wajib kami tanggapi karena mengandung (i) pelecehan dan (ii) adanya pembalikan berbagai fakta di gerakan JBDK. <Baca lengkap: Mosi Keberatan>|<Download versi .pdf: /mosi-keberatan/Mosi Untuk Sony Set.pdf>






