89 Persen "Chatting" Remaja Berbau Seks
meutiahatta.jpg

[JAKARTA] Pengaruh buruk pornografi telah banyak membawa korban, khususnya perempuan dan anak-anak, untuk dijadikan alat dari komoditas industri pornografi. Penelitian yang dilakukan sebuah lembaga swadaya masyarakat pada tahun 2007 dengan Koordinator Peri Umar Farouk yang membentuk sebuah gerakan bernama Jangan Bugil Depan Kamera (JBDK), diketahui terdapat 100.000 situs materi pornografi anak yang ada di internet.

"Penelitian ini juga mengungkap hampir 89 persen chatting (obrolan elektronik) anak dan remaja berkonotasi seksual. Dan rata-rata usia 11 tahun adalah usia anak termuda sebagai pengakses pornografi. Dan 90 persen akses internet berbau pornografi itu, dilakukan anak justru saat mereka sedang mengerjakan tugas sekolah atau saat belajar bersama," ujar Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan, Meutia Hatta Swasono dalam Simposium Jurnal Antropologi Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut Meutia, selain data ini, dinyatakan juga oleh penelitian JBDK bahwa 90 persen dari 500 buah video porno atau lebih, yang telah beredar di kalangan remaja menunjukkan, para aktor dan aktris film porno itu 100 persen merupakan anak-anak dan remaja yang asli orang Indonesia. Mereka kebanyakan masih berstatus pelajar dan mahasiswa.

Dikatakan, hal yang semakin memprihatinkan adalah, semakin hari kecenderungan pelaku atau korban bugil di depan kamera berusia semakin muda, yakni pelajar SMP. "Apa yang dimaksud bugil di depan kamera adalah melakukan membuka pakaian atau bugil karena iseng, karena ancaman atau pun tanpa paksaan, yang diikuti dengan eksploitasi seksual dan perkosaan. Adegan ini kemudian direkam dalam kamera HP yang selanjutnya dapat dijadikan alat memaksa korban untuk mengikuti kemauan orang yang mengintimidasi korban," tukasnya.

Diungkapkan, modus operandinya pada setiap korban hampir sama, yaitu seorang remaja putri mula-mula melakukan dengan sukarela, kemudian ketika putus berpacaran, mantan pacarnya menyebarkan gambar itu lewat HP kepada banyak orang, yang menyebabkan korban mengalami shock, tekanan mental berkepanjangan, termasuk pula orangtuanya.

"Deskripsi penelitian Gerakan Jangan Bugil Depan Kamera ini, sungguh memprihatinkan," tutur Meutia.


Sumber: suarapembaruan.com 26 Juli 2008

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.