3 Terdakwa Disidang Terpisah - Kasus Peredaran Foto Bugil di Situs Internet

MOJOKERTO - Tiga remaja yang tersangkut kasus peredaran foto-foto porno di sebuah situs internet pada Oktober 2005 silam, Kamis kemarin pagi mulai menjalani persidangan perdana di PN Mojokerto. Ketiganya adalah, Endang Kristi Handayani, 18 tahun, mantan Yuk Kota Mojokerto 2005; Dwi Seta Yusanto, 21 tahun, pacar Kristi (bukan Yuseta seperti yang tertulis kemarin, Red): serta Yuli Tri Purwaningtyas, 16 tahun, siswi SMAN 1 Puri Mojokerto yang menjadi teman dekat Kristi semasa di SMAN 1 Puri. Sidang kasus pidana kali ini dipimpin oleh Ketua Majelis Hakim, Muhammad Legowo SH. Ketiga terdakwa disidang secara terpisah. Hal ini karena, penyidik Polres Mojokerto yang memproses kasus tersebut memisah penanganan kasus ini menjadi tiga berkas.

Yang kali pertama disidang adalah Dwi Seta Yusanto. Agenda sidang perdana diisi dengan pembacaan dakwaan oleh JPU Sucipto SH. Saat membaca dakwaan, Sucipto didampingi oleh Jaksa Erfan Hergianto SH. Dalam dakwaannya, Sucipto mengatakan, kronologi peredaran foto-foto porno di sebuah situs internet yang dapat diakses netter seluruh dunia pada medio Oktober 2005 silam bermula dari kepergian Kristi dan Seta ke sebuah Hotel di Lawang Malang pada 10 September 2005 silam. Saat itu, Kristi berpamitan kepada orang tuanya akan mengikuti kegiatan rohani bertajuk retreat selama dua hari di Malang. Kristi dan Seta ke Lawang Malang naik Avanza silver bernopol L 2181 KW milik Seta. Di sela-sela selama berduaan di hotel itulah, Seta memotret Kristi dengan berbagai pose. Sebagian besar di antaranya dalam pose telanjang tanpa busana. Sebagian lainnya mengenakan lembaran kain dan pakaian dalam. Pemotretan itu dilakukan dengan menggunakan kamera yang ada dalam ponsel Nokia 3650 milik Kristi.

Setelah tersimpan dalam memori ponsel, sepulangnya dari Malang, Seta lantas memindahkan data digital tersebut ke laptop merek Compaq miliknya. Dari sinilah data digital itu di copy atau di-burn ke dalam dua keping piringan compact disc. Orang ketiga yang mengetahui adanya foto bugil dalam CD itu adalah Yuli. Ceritanya, pada 17 September 2005 Kristi dan Seta mengajak Yuli ke Surabaya. Mereka bertiga naik Avanza dan Seta yang menyopiri mobil itu. Di dalam perjalanan, Yuli mendangar percakapan antara Kristi dan Seta tentang foto-foto syur dalam kepingan CD yang dibuat saat mereka menginap di Malang. Yuli menyampaikan niatnya untuk melihat foto-foto tersebut. Permintaan itu dikabulkan oleh Kristi dan Seta.

"Mulanya terdakwa Kristi meminta izin kepada Seta. Dan, Seta mengizinkan CD itu dipinjamkan ke Yuli," kata Sucipto.

Pada 19 September 2005 sekitar pukul 13.00 usai pulang sekolah, Yuli mengajak tiga temannya untuk menonton gambar-gambar itu. Tiga temannya itu antara lain Isa, Indah dan Redinar. "Ayo ke rumahku, enak-enak. Pasti kamu kaget," kata Yuli seperti tertera dalam materi dakwaan yang dibacakan Sucipto. Ketiga teman Yuli akhirnya mendatangi rumah Yuli di Puri Mojokerto. Di rumah tersebut, mereka berempat menonton CD melalui CD Room di personal computer (PC) milik Yuli. Terdakwa awalnya yang menyalakan PC dan memasukkan password. Selanjutnya, Isa yang membuka file berisi foto-foto atas perintah Yuli. Saat itulah muncul puluhan gambar-gambar Kristi dengan berbagai pose. Antara lain pose berbaring di tempat tidur, duduk, jongkok, berdiri. "Foto-foto berjumlah 26," tambah Sucipto. Atas perbuatan tersebut, terdakwa Seta didakwa melakukan perbuatan seperti dalam Pasal 282 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal satu tahun empat bulan.

Ketika membacakan dakwaan, sidang dinyatakan terbuka. Namun, berikutnya, Legowo menyatakan sidang tertutup. Dalam sidang, Jurnal SH selaku penasihat hukum Seta mengatakan akan menyampaikan eksepsi dalam persidangan mendatang. Legowo lantas menutup sidang dan mengatakan, persidangan kedua akan dilanjutkan pada 24 Januari 2006 mendatang dengan agenda penyampaian eksepsi.

Pada sidang kedua, giliran Kristi yang dihadirkan. Sesaat sebelumnya, kehadiran Kristi ke PN sempat membuat perhatian pengunjung tertuju kepadanya. Mengenakan pakaian serba hitam dan softlens warna biru, Kristi tiba di PN sekitar pukul 10.00. Dia didampingi oleh penasihat hukumnya Sucahyo Ma’ruf. Begitu memasuki pelataran PN, puluhan wartawan media cetak dan elektronik dan puluhan pengunjung langsung mengerubungnya. Tak terkecuali sejumlah hakim, panitera dan staf honorer PN yang ingin tahu Kristi dari dekat. Dalam sidang, Sucipto menyampaikan materi dakwaan yang hampir sama dengan dakwaan yang disampaikan sebelumnya. Dalam sidang tertutup, penasihat hukum Kristi, Sucahyo Makruf SH langsung menyampaikan eksepsi. Dalam paparannya, Sucahyo menilai, dakwaan jaksa tidak cermat, karena ada beberapa unsur yang tidak dimasukkan dalam materi dakwaan. Setidaknya Sucahyo mencatat ada empat hal.

Pertama, unsur baru masuk, unsur kirimkan langsung, unsur bawa keluar atau sediakan tulisan, dan unsur ditempelkan, sehingga kelihatan orang banyak. Dia lantas mengaitkan hal tersebut dengan yurisprudensi MA tertanggal 23 Juni 1983 yang mengatakan bahwa jika salah satu unsur tidak dimasukkan dalam dakwaan, maka dakwaan batal demi hukum. Dia juga menilai, penyertaan Pasal 55 Ayat 1 KUHP tidak diuraikan secara jelas tentang kedudukan terdakwa Kristi apakah sebagai pelaku atau orang yang disuruh atau orang yang turut serta.

Pada sidang ketiga, giliran Yuli yang dihadirkan sebagai terdakwa. Dalam sidang kali ini Yuli tak didampingi oleh penasihat hukum. Sidang diawali dengan pembacaan hasil kajian Balai Pemasyarakatan Surabaya, Tri Pramudyo SH. Hal ini karena, secara hukum usia Yuli yang masih 16 tahun masih termasuk kategori anak-anak. Dalam penyampaiannya, Tri Pramudyo SH mengatakan, Yuli baru kali ini berurusan dengan perkara pidana. Yang bersangkutan masih tercatat sebagai siswi kelas III di SMAN Puri 1 Mojokerto. "Yang bersangkutan berasal dari keluarga baik-baik dan taat beribadah," kata Tri Pramudyo SH. Usai pembacaan paparan, Sucipto lantas gantian membacakan dakwaan. Materi dakwaan juga sebagian besar sama dengan dakwaan sebelumnya. Setelah pembacaan dakwaan, sidang ditutup dan dilanjutkan kembali pada 24 Januari 2006 mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. Ketika ditemui di sela-sela persidangan, Kristi yang menjadi perhatian pengunjung PN menolak berkomentar.

"Semuanya sudah saya serahkan ke pengacara," jawab Kristi.

Merespons eksepsi Sucahyo Makruf dalam sidang dengan terdakwa Kristi, Sucipto mengatakan, hal itu menjadi hak pengacara. "Itu kan komentar pengacara. Pada saatnya nanti akan kita jawab," ujar Sucipto SH. (lal)

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.