Dewi IISIP

Catatan: Nama baku gerakan adalah Gerakan “Jangan Bugil Depan Kamera!” disingkat JBDK. Alamat situs www.jbdk.org. Email: gro.kdbj|ofni#gro.kdbj|ofni.

Di bawah adalah jawaban PERI UMAR FAROUK (Resources Coordinator JBDK, disingkat PUF) atas pertanyaan DEWI (IISIP):

DEWI: (1) Apakah yang dinamakan situs porno menurut pandangan anda?

PUF: Situs yang mengekspos tubuh manusia atau perilaku seksual manusia dengan tujuan membangkitkan rangsangan seksual.

DEWI: (2) Sejauhmana perkembangan media (dalam hal ini internet) sehingga para remaja dengan mudahnya mengakses situs porno?

PUF: Orang yang mengekspos pornografi ada yang aktif ada yang pasif. Dua-duanya dipermudah dengan teknologi yang semakin canggih, baik disengaja maupun tanpa disengaja diperuntukan demi industri pornografi, dengan kata lain mengeruk uang dengan pornografi. Anda bisa melihat kondisi ini di buku elektronik JBDK: “Menjawab Tantangan Pornografi Remaja Indonesia” di kotak ‘Strategi Jebakan Pornografer di Internet’ hal. 10-13.

DEWI: (3) Apa dampak buruk situs porno terhadap kehidupan remaja yang sering mengakses situs porno?

PUF: DR Victor Cline berdasarkan penelitiannya menyatakan adanya 4 tahap buruk di antara orang yang mengekspos pornografi: Tahap pertama, adalah KECANDUAN dimana bisa berbentuk pelepasan sex yang tidak beraturan seperti kegemaran bermasturbasi. Tahap kedua, ESKALASI yang bisa berbentuk kelakuan sex yang lebih eksplisit, misalnya berhubungan dengan PSK atau memaksa hubungan sex dengan pasangan. Ketiga, DESENTISASI, kehilangan sensitivitas atau menganggap wajar perilaku sex yang amoral serta tak wajar, sehingga menjadi orang yang berperilaku melecehkan secara seksual dan tidak peduali dengan hubungan-hubungan yang sehat seperti persahabatan, persaudaraan dll. Terakhir, PELAMPIASAN yang lebih biadab. Semua perilaku sex yang dilihatnya secara obesesif ingin dipraktekkan, bahkan yang paling membahayakan adalah mendambakan kesakitan pasangan sexnya sehingga berpotensi sebagai pemerkosa atau lebih parah lagi sebagai pedofil (mengorbankan anak di bawah umur)

DEWI: (4) Apakah maraknya kasus perkosaan disebabkan oleh dampak mengakses situs porno?

PUF: Secara teoritis, sebagaimana dinamika kecanduan yang diindikasikan DR Victor Cilen, di tingkat tertentu orang dengan kecanduan pornografi/sex membutuhkan pelampiasan tertentu yang tidak wajar. Sex dengan menyakiti merupakan degradasi yang paling parah dari kecanduan pornografi, misalnya dengan kekerasan, perkosaan bahkan fedofilia (eksploitasi sex terhadap anak bawah umur, 18 tahun ke bawah).

DEWI: (5) Bagaimana cara melepas kecanduan situs porno?

PUF: Sangat kompleks dan membutuhkan terapi yang ahli, mengingat tingkatannya yang bervariasi. Setiap kecanduan tidak ada jurus yang mujarab, sangat kasuistis dan personal. Hanya saja yang paling berperan adalah kemauan pribadi untuk berhenti. Kecanduan porno merupakan permasalahan yang multidimensi, menyangkut: psikologi, moralitas, agama, dll. Sehingga terapinya juga tidak sembarangan.

DEWI: (6) Apa penyebab yang paling utama remaja tertarik mengakses situs porno?

PUF: Pornografi bagi remaja ibarat keju bagi tikus. Kelihatannya indah, fun, menyenangkan, lezat, gurih, enak dll. Padahal kalau pandangan kita zoom-in lebih lebar, akan kelihatan bahwa pornografi adalah keju yang ada di tengah-tengah perangkap tikus. Siap menjebak ketika melahapnya.
Pikiran sempit inilah yang perlu dibenahi. Penyebab lainnya adalah jumlah situs pornografi yang 15% dari jumlah keseluruhan situs yang ada di dunia. Pornografi juga merupakan bisnis yang sangat menggiurkan. Statistik terakhir menyatakan bahwa pendapatan pornografi internet, lebih besar dari gabungan pendapatan 8 perusahaan terbesar teknologi informasi (Microsoft, Amazon.com, Yahoo, Netflix, Google…)

DEWI: (7) Apa pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah banyaknya pornografi selain dengan berkampanye "Jangan Bugil Depan Kamera!" ?

PUF: Lihat bagian Antisipasi di buku elektronik JBDK “Menjawab Tantangan Pornografi Remaja Indonesia” karya Peri Umar Farouk, hal. 19-21.

DEWI: (8) Bagaimana berinternet yang sehat?

PUF: Internet adalah sebuah media, sudah pasti dipakai dengan tujuan-tujuan tertentu. Berinternet yang sehat adalah yang mempunyai TUJUAN YANG SEHAT, misalnya untuk informasi, pembelajaran, mengembangkan life-skill, mencari peluang bisnis dan berpendapatan yang tidak melanggar susila atau bersifat kriminal.

DEWI: (9) Tanggapan anda mengenai pemblokiran situs porno pada UU ITE yang telah disahkan 25 Maret (kalo ga salah) kemarin?

PUF: Pemblokiran dalam rangka penerapan Pasal 27 ayat (1) UU ITE akan efektif terhadap situs-situs porno yang memakai resources teknologi serta lalu lintas pembayaran dalam negeri. Misalnya yang mempergunakan server dari penyedia layanan hosting dalam negeri, serta mempergunakan pembayaran melalui transfer dan internet banking lembaga keuangan di Indonesia.
Untuk pemblokiran secara umum akan dipersulit, mengingat faktor-faktor sbb:

  • Ekstensi nama domain internet situs pornografi tidak dispesifikasi. Jadi sama sebagaimana situs-stus pada umumnya: .com, .net, .info, .biz. Lima tahunan ke belakang sebenarnya sudah ada usulan untuk mengkhususkan ekstensi untuk situs porno yakni: .xxx atau .sex, tapi sampai saat ini tidak merupakan kewajiban;
  • Sifat anonimitas di dunia internet, membuat orang lebih sulit dilacak, sehingga para pornografer akan dengan mudah menyamarkan nama serta identitasnya di dunia maya. Di dunia offline, orang bisa dicek dengan KTP, SIM, Paspor dll;
  • Situs-situs porno semakin mengeksploitasi istilah generik. Nama binatang, tumbuhan, planet-planet, bahkan yang berhubungan dengan sekolah/pendidikan dipakai sebagai alamat/nama domain, keyword, dll;
  • Banyaknya pembajakan (cyber-squatting) nama-nama terkenal, seperti nama selebriti, karakter superhero, karakter kartun/komik, dll.

DEWI: (10) Apakah dengan menggerakkan kampanye "Jangan Bugil di Depan Kamera" akan mengurangi pengakses situs porno?

PUF: Kampanye JBDK (Jangan Bugil Depan Kamera!) telah mengembangkan dirinya menjadi sebuah gerakan. Pada intinya, JBDK lebih memposisikan diri sebagai resource center untuk anti pornografi kalangan remaja Indonesia. Tagline kerja JBDK adalah MENGGAGAS LINGKUNGAN TAHAN PORNOGRAFI. Efektivitas jangka panjang JBDK akan terlihat seberapa jauh pendekatan, perspektif dan visi-misinya dipakai atau direplikasi oleh berbagai lingkungan, seperti: keluarga, sekolah, perpustakaan, warnet, lingkungan departemen, perkantoran, dll. JBDK berpendapat semua kita dan semua media ada pada sebuah lingkungan, bila lingkungan bergerak dalam porsinya masing-masing menjadi pemutus rantai pembuatan serta peredaran materi bugil depan kamera, maka pornografi akan semakin dipersempit ruang geraknya.
Secara jangka pendek, antara lain melalui kampanye, JBDK memandang sangat efektif, mengingat sejak dilaunching di tanggal 29 Mei 2007, telah banyak efek domino dari Gerakan JBDK, baik yang melibatkan atau tanpa melibatkan Tim Kerja JBDK. Untuk JBDK sendiri, gerakan ini bisa berjalan meski bergerilya, tanpa dana sponsor, tanpa fund raising, dan tanpa biaya apapun untuk masuk ke berbagai media, elektronik maupun non elektronik. Berbagai kreativitas sumbangan berbagai pihak untuk mengembangkan gerakan JBDK semakin hari semakin bermunculan: logo, lagu, puisi, poster, kabaret, teater, dll. Acara dengan mengambil isu Jangan Bugil Depan Kamera, sudah banyak diselenggarakan dan beberapa dalam proses, dengan basis sekolah atau perguruan tinggi, lembaga atau keormasan sosial maupun agama, serta berbasis lokal/daerah.

DEWI: (11) Sampai saat ini berapa banyak jumlah situs porno di Indonesia selain dari penelitian 500+ Gelombang Video Porno di Indonesia (mungkin bertambah lagi?)

PUF: Sampai kuartal pertama tahun 2008 ini, mini video porno made in Indonesia hampir mendekati 600an. Saya memandang masih sangat banyak, karena yang muncul ke muka umum sebenarnya bila dilihat tahun pembuatannya berada di satu-dua tahun ke belakang. Mini video porno tahun-tahun yang bersangkutan belum masuk ke ruang publik, baik melalui internet maupun teknologi mobile. Menurut pantauan saya, masuknya mini video porno ke publik bisa dikategorikan dalam berbagai momentum. Yakni: karena iseng, karena kecerobohan, karena kemalingan, ditransfer oleh pihak ketiga (bengkel, servis, teman, tetangga, dll), karena unsur sakit hati atau balas dendam dari pasangan, atau dalam rangka pencemaran nama baik atau persaingan.

***

Unless otherwise stated, the content of this page is licensed under Creative Commons Attribution-Share Alike 2.5 License.